BERITAPOPULER.CO.ID, JAKARTA– Sebuah video menuai haru netizen. Video itu menunjukkan sejumlah warga sedang bergotong royong membangun sebuah rumah layak huni buat ibu dari mendiang Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan di Padang Pariaman, korban pemerkosaan dan pembunuhan yang menggegerkan publik.
Langit Macaronis, seorang pengguna platform X dengan akun @Lone_Lynx_, mengunggah video tersebut, yang langsung menyentuh hati ribuan orang.
Video itu menampilkan momen gotong royong warga setempat membangun kembali rumah almarhumah Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan yang bermimpi memiliki rumah layak huni, namun tragisnya, tak pernah sempat mewujudkan impian itu dalam hidupnya.

Donasi dari berbagai pihak, termasuk netizen yang tersentuh oleh kisah Nia, turut membantu mewujudkan harapan tersebut.
“Rumah kediaman Almarhumah Nia Kurnia Sari sedang dibangun secara gotong royong oleh warga setempat, atas bantuan dan donasi berbagai pihak termasuk donasi dari netizen. Semasa hidup, Nia bermimpi ingin memiliki rumah layak huni,” tulis Langit Macaronis dalam caption video.
Namun, bagian paling mengharukan dari video tersebut adalah ketika kamera bergerak masuk ke dalam rumah sederhana Nia.
Kakek Nia memperlihatkan sudut-sudut rumah hingga kamar cucunya yang kini kosong. Dengan perlahan, tangannya mengangkat boneka beruang Teddy, hadiah dari seorang sahabat Nia, yang menjadi saksi bisu momen-momen hangat dalam hidup gadis itu. Boneka itu terlihat bersih, dan penuh makna.
Di sudut lain kamar, kakek Nia juga memperlihatkan tumpukan buku-buku di sebuah rak kayu. Beberapa di antaranya adalah beberapa kamus bahasa Inggris, sebuah petunjuk tentang impian besar Nia yang lain, yaitu mempelajari bahasa asing. Kakeknya mengenang bahwa Nia sangat menyukai dan memang dinilainya pintar Bahasa Inggris.

Adegan dalam video itu menghadirkan keheningan yang dalam. Di kamar yang sempit dan sederhana itu, terungkaplah impian-impian Nia yang tidak sempat ia capai: sebuah rumah yang nyaman, pengetahuan yang lebih luas, dan mungkin dunia yang lebih besar dari apa yang ia ketahui.
Proses gotong royong yang dilakukan warga tak hanya sekadar membangun fisik rumah, tetapi juga menciptakan bentuk solidaritas dan penghargaan atas hidup Nia.
Seperti halnya boneka Teddy dan buku-buku Nia, rumah itu kini menjadi simbol kehangatan dan kasih yang ditinggalkan oleh seorang gadis sederhana dengan impian besar.
Meski Nia telah tiada, kenangannya tetap hidup, terwujud dalam setiap bata yang disusun oleh tangan-tangan penuh ketulusan. (*)








