Scroll untuk baca artikel
Ads Beritapopuler.co.id 325x300
Populer

Anak-Anak dan Kata-Kata: Menumbuhkan Imajinasi dan Nurani lewat Sastra

×

Anak-Anak dan Kata-Kata: Menumbuhkan Imajinasi dan Nurani lewat Sastra

Sebarkan artikel ini
Abdul Wachid B.S. Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Saizu Purwokerto (FOTO: dok. Kemenag)

BERITAPOPULER.CO.ID, PURWOKERTO – Anak, Dunia Kata, dan Krisis Imajinasi. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang kini kian didominasi oleh layar: video pendek, gim daring, dan algoritma hiburan yang tanpa henti menawarkan kesenangan instan. Dalam pusaran itu, dunia kata (bacaan, dongeng, puisi, dan cerita) perlahan surut dari keseharian mereka. Pertanyaannya: masihkah anak-anak kita memiliki ruang untuk kata-kata? Masihkah mereka punya waktu untuk mendengar cerita, menulis kisah, dan merayakan imajinasi?

Kata adalah rumah kesadaran manusia. Dari kata, manusia belajar memahami, menamai, dan mencintai dunia. Kehilangan kata berarti kehilangan daya memahami makna, kehilangan ruang untuk berempati. Sebagaimana dikatakan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan sejati harus menumbuhkan kemampuan ngerti, ngrasa, lan nglakoni: mengerti dengan pikiran, merasakan dengan hati, dan melakukannya dalam tindakan. Sastra adalah wujud nyata dari pendidikan yang menumbuhkan tiga ranah itu sekaligus.

Di tengah banjir konten digital, sastra anak sering kali terpinggirkan. Padahal, sastra adalah gerbang awal bagi anak untuk mengenal dunia, memahami nilai, dan mengasah nurani. Melalui cerita, anak belajar membedakan baik dan buruk, berempati terhadap sesama, dan mencintai kehidupan. Di dalam bahasa yang indah, anak-anak menemukan ketenangan sekaligus keberanian untuk bertanya, membayangkan, dan bermimpi.

Sastra Anak: Ruang Imajinasi dan Penanaman Nilai

Sastra anak bukan sekadar hiburan, tetapi ruang pembentukan jiwa. Melalui sastra, anak-anak belajar mengenali dirinya dan memahami orang lain. Dalam kisah yang sederhana tersimpan nilai-nilai moral, estetika, dan spiritual. Cerita tentang persahabatan, keberanian, atau kasih sayang bukan hanya pesan moral yang dihafal, melainkan pengalaman batin yang dirasakan.

Burhan Nurgiyantoro (Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005:12) menegaskan bahwa sastra anak merupakan medium pendidikan yang mampu menyentuh emosi dan intelektual anak sekaligus. Ia menulis, “Sastra anak harus menghibur, tetapi juga mendidik. Di dalamnya harus ada keseimbangan antara keindahan bahasa, pesan moral, dan kedekatan dengan dunia anak.” dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis (13/11/2025)

Dalam perspektif psikologi perkembangan, Jean Piaget menganggap imajinasi adalah bagian penting dari proses berpikir anak. Sementara Lev Vygotsky melihat bahasa sebagai jembatan antara pikiran dan budaya. Maka, membacakan cerita atau menulis bersama anak bukan hanya mengasah kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk cara berpikir dan menanamkan kesadaran sosial.

Sastra anak yang berpijak pada kearifan lokal juga memiliki peran penting dalam membangun identitas kebangsaan. Cerita rakyat, legenda daerah, dan tokoh-tokoh lokal bisa menjadi cermin bagi anak untuk mengenal akar budaya bangsanya. Dalam kisah Malin Kundang, Timun Mas, atau Lutung Kasarung, tersimpan nilai kesetiaan, perjuangan, dan kebijaksanaan yang masih relevan hingga kini.

Sayangnya, sastra anak sering kali masih dianggap pelengkap dalam pendidikan. Buku-buku anak lokal kalah pamor dibandingkan buku terjemahan yang serba instan. Kurikulum sekolah pun kerap memosisikan sastra sebagai tambahan, bukan inti. Padahal, pendidikan yang mengabaikan sastra berarti mengabaikan salah satu sumber utama pembentukan nurani manusia. Sebab, manusia tidak dibentuk hanya oleh logika, tetapi juga oleh keindahan dan empati yang tumbuh lewat cerita.

Heru Kurniawan: Penulis dan Penggerak Sastra Anak

Dalam situasi di mana sastra anak jarang mendapatkan perhatian, muncul sosok-sosok yang menyalakan lentera di tengah gelap. Salah satunya adalah Heru Kurniawan, penulis, akademisi (Ketua Program Studi Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto), dan penggerak literasi anak yang kiprahnya telah melampaui ruang kampus.

Lahir di Brebes, 22 Maret 1982, dari keluarga sederhana (ayah seorang guru sekolah dasar dan ibu seorang petani) Heru tumbuh dalam suasana penuh cerita. Ia gemar mendengarkan dongeng dari orang tua, membaca buku di perpustakaan sekolah, dan menulis kisah sejak usia belia. Dari kebiasaan itu lahir mimpi untuk menjadi penulis dan guru.

Kini, Heru dikenal sebagai penulis produktif yang telah menerbitkan puluhan buku bacaan anak, baik cerita maupun buku aktivitas, melalui penerbit nasional seperti Grasindo, Bhuana Ilmu Populer, Elex Media Komputindo, dan M&C. Banyak bukunya menjadi bacaan populer di sekolah-sekolah, bahkan beberapa meraih penghargaan nasional. Namun yang terpenting, karya-karyanya selalu berpijak pada nilai kemanusiaan, empati, dan keberanian bermimpi.

Heru menganggap menulis untuk anak sebagai panggilan moral. Dalam wawancara pribadi (2025), ia mengatakan, “Menulis untuk anak adalah cara saya menghidupkan nilai-nilai yang saya yakini. Saya ingin anak-anak tidak hanya membaca, tapi juga merasakan dan mengalami.” Pernyataannya ini mencerminkan pandangan bahwa sastra anak bukan sekadar teks, tetapi pengalaman batin yang menggerakkan tumbuhnya kepekaan.

Rumah Kreatif Wadas Kelir: Membumikan Sastra Anak

Dari gagasan dan keprihatinan itulah, Heru mendirikan Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) di Purwokerto. Komunitas ini menjadi ruang hidup bagi anak-anak untuk kembali berjumpa dengan kata dan imajinasi. Setiap pekan, anak-anak diajak menulis, membaca, dan mendongeng. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pencipta cerita.

RKWK juga mengadakan berbagai kegiatan literasi seperti pelatihan menulis untuk guru, lomba menggambar cerita, dongeng keliling desa, hingga pendirian perpustakaan kampung. Kegiatan itu tidak hanya memperluas akses bacaan, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang hidup dan humanis. Di ruang-ruang sederhana itu, anak-anak belajar mengekspresikan diri dan menghargai kata.

Atas konsistensinya, RKWK telah menerima berbagai penghargaan nasional: Kampung Literasi (Kemendikbud, 2016), Anugerah Aksara (2017), Komunitas Inspiratif Original Indonesia (2017), dan Satu Indonesia Award dari Astra (2022). Namun, lebih dari sekadar penghargaan, keberadaan komunitas seperti ini adalah bukti bahwa sastra dapat menjadi pendidikan alternatif yang berakar di masyarakat.

Dalam komunitas seperti RKWK, anak-anak belajar tidak hanya membaca, tetapi juga menulis diri mereka sendiri, menyadari bahwa mereka punya suara, punya makna, dan punya masa depan. Di sinilah sastra anak bekerja sebagai gerakan kebudayaan, bukan sekadar kegiatan literasi.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski ada individu dan komunitas yang menginspirasi, sastra anak masih menghadapi tantangan besar. Dunia digital yang serba cepat membuat anak-anak lebih mudah terpikat oleh visual daripada teks. Konten anak di internet banyak yang miskin nilai edukatif. Selain itu, penerbit kerap ragu menggarap buku anak lokal karena dianggap tidak menguntungkan.

Untuk itu, perlu langkah strategis dan kolektif agar sastra anak tidak kehilangan tempatnya.

1. Integrasi dalam kurikulum pendidikan dasar. Sastra anak harus hadir tidak hanya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga lintas mata pelajaran, karena nilai-nilainya bersifat universal.

2. Dukungan nyata bagi penerbit dan penulis. Negara dapat menyediakan dana hibah atau insentif bagi penerbitan karya anak lokal berkualitas.

3. Pelatihan dan kolaborasi lintas profesi. Guru, seniman, psikolog, dan pegiat literasi perlu bekerja sama menciptakan ekosistem sastra anak yang adaptif dan relevan.

4. Pemanfaatan teknologi secara kreatif. Buku digital, podcast dongeng, atau kanal YouTube edukatif dapat menjadi media baru bagi sastra anak tanpa kehilangan ruhnya.

5. Keterlibatan keluarga. Orang tua adalah jembatan utama antara anak dan kata-kata. Membacakan cerita sebelum tidur atau menulis bersama dapat menjadi pengalaman emosional yang tak ternilai.

Sebagaimana diungkapkan Peninah Mlama, pakar sastra anak dari Tanzania, “Children’s literature is the foundation for a culturally conscious and socially responsible society.” (UNESCO Speech, 2008). Sastra anak, dengan demikian, adalah fondasi bagi masyarakat yang sadar budaya dan bertanggung jawab secara sosial.

Kata-Kata sebagai Rumah Kemanusiaan

Bangsa akan tumbuh atau runtuh tergantung pada bagaimana anak-anaknya dibesarkan. Dan tidak ada cara yang lebih lembut sekaligus kuat untuk membesarkan anak selain dengan kata-kata: cerita, puisi, dan dongeng yang menghidupkan imajinasi serta nurani mereka.

Kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang jiwa tempat nilai dan kasih bersemayam. Dalam kata, anak-anak belajar mengingat dan menafsirkan pengalaman. Dalam kata pula, mereka belajar mengenal Tuhan, alam, dan sesama manusia. Karena itu, merawat anak berarti juga merawat bahasa mereka; menjaga kemanusiaan berarti menjaga keberlangsungan kata.

Pepatah bijak mengatakan, “Jika ingin melihat masa depan sebuah bangsa, lihatlah bagaimana anak-anaknya tumbuh hari ini.” Melalui sastra, anak-anak belajar menjadi manusia yang utuh: yang berpikir, merasa, dan berempati.

Setiap cerita yang kita bacakan, setiap kata yang kita tulis bersama mereka, adalah doa yang bergerak menuju masa depan. Kata adalah benih bagi kebudayaan; anak-anak adalah tanah subur bagi benih itu. Maka, mari kita tumbuhkan kembali dunia kata agar imajinasi dan nurani bangsa ini tetap hidup dan berakar dalam kemanusiaan.

Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto) (SHA)

Dapatkan berita terupdate beritapopuler.co.id di: