Beritapopuler.co.id, Jakarta – Fenomena investasi bodong berkedok robot trading kembali menjadi sorotan. Asosiasi Robot Trading Indonesia (ARTI) menilai praktik penipuan berbasis skema ponzi ini masih marak dan terus memakan korban di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial.
Ketua Bidang Edukasi dan Literasi ARTI, Ardi Novianto Putra, mengatakan bahwa sejumlah pihak tidak bertanggung jawab memanfaatkan tren trading otomatis untuk menarik masyarakat dengan iming-iming keuntungan pasti.
“Banyak platform mengklaim menggunakan robot trading dengan imbal hasil tetap. Padahal dalam praktik trading yang sesungguhnya, tidak ada jaminan keuntungan pasti,” ujar Ardi, Selasa (7/4/2026).
Menurut dia, kasus serupa sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah platform seperti DNA Pro, Net89, Auto Trade Gold (ATG), hingga Fahrenheit sempat terungkap sebagai skema ponzi yang merugikan masyarakat luas. Selain itu, platform lain seperti Global Investment Grup, Opalp, Stock Nexa, Wavedex, hingga PowerXRP juga disebut sempat beroperasi sebelum akhirnya kolaps.
Ardi menilai, maraknya kasus ini menjadi indikator masih rendahnya literasi keuangan masyarakat, khususnya dalam memahami mekanisme trading yang sebenarnya.
“Trading adalah aktivitas berisiko tinggi yang sangat bergantung pada kondisi pasar. Klaim profit konsisten tanpa risiko justru menjadi tanda adanya praktik yang tidak sehat,” katanya.
ARTI mengungkap sejumlah ciri umum investasi bodong berkedok robot trading, di antaranya menjanjikan keuntungan tetap, tidak transparan dalam sistem, tidak memiliki izin resmi, serta lebih menitikberatkan pada perekrutan anggota baru dibanding aktivitas trading itu sendiri.
Selain itu, penggunaan testimoni berlebihan juga kerap dijadikan alat untuk meyakinkan calon korban.
ARTI pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan selalu memeriksa legalitas platform sebelum berinvestasi. Prinsip “legal dan logis” disebut sebagai kunci utama agar terhindar dari penipuan.
“Kami mengajak masyarakat untuk lebih kritis. Jangan mudah tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa memahami risikonya,” tegas Ardi.
Sebagai langkah pencegahan, ARTI menyatakan akan terus mendorong edukasi publik terkait trading yang benar serta meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Dengan meningkatnya pemahaman, diharapkan praktik investasi bodong berkedok robot trading dapat ditekan.








