BERITAPOPULER.CO.ID, JAKARTA– Pagar laut misterius di Kabupaten Tanggerang akhirnya dibongkar. Namun publik masih bertanya-tanya pemilik pagar bambu yang membentang sepanjang 30 kilometer tersebut.
Pagar laut di utara Tangerang itu sebenarnya mulai dipasang pada 2023. Analisis citra satelit oleh Greenpeace Indonesia memperlihatkan pagar sudah berdiri pada Desember 2023 di Desa Kohod.
Majalah Tempo edisi Pagar Makan Lautan berhasil menemukan fakta pemilik pagar laut tersebut. Salah satu nelayan Desa Kronjo menyebutkan hampir tiap malam ia melihat truk pengangkut bambu melintas. Kata dia, pekerja menancapkan bambu pada pagi hari.
Ia sempat mencari tahu orang yang memerintahkan pemasangan pagar bambu tersebut. Namun, bukan jawaban yang ia terima, justru ia ditawari pekerjaan, yang belakangan ia tahu upahnya 125.000 per hari.
Nelayan lain asal Desa ketapang yang Tempo temui menceritakan bahwa pagar tersebut digarap oleh warga dari Desa Karang Serang. Bahkan ia sempat meminta para pematok untuk menghentikan pekerjaannya.
Kemudian ia dan nelayan lain mengadukan persoalan itu kepada ketua nelayan Desa Ketapang, Atam. Atam menuturkan, ia kemudian meminta Wana dan kawan-kawan tak menyulut konflik. Tapi ia mendorong agar ada musyawarah bersama perangkat desa.
“Kami ingin tahu proyek apa,” ujar Atam mepda Tempo pada Jumat, 17 Januari 2025.

Dalam pertemuan itu, Kepala Desa Ketapang mengatakan tak bisa menghentikan pemagaran karena pagar itu bagian dari proyek strategis nasional (PSN).
“Dan masyarakat tidak berani protes karena aparat penegak hukum setempat itu menyampaikan kepada warga, mereka menganggap itu wilayah PSN. Ini wilayah proyeknya negara jadi tidak boleh diganggu. Jadi masyarakat sendiri sudah ketakutan untuk memprotes. Mereka tidak tahu mana wilayah PSN atau bukan, yang mereka tahu pengembangan PIK itu ya PSN,” ungkap Fransisca Christy Rosana dalam podcast Bocor Alus Politik.
“Udah susah mencari nafkah, diintimidasi lagi. Busyet,” imbuh Erwan Hermawan menimpali.
Penelusuran Tempo di lapangan menemukan dua aktor yakni Tyson dan Memet. Mereka berdua bekerja di bawah pengawasan Ali Hanafia Lijaya, orang dekat Sugianto Kusuma alias Aguan,
Sejumlah narasumber yang ditemui Tempo, termasuk petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tyson bekerja bukan hanya di Ketapang, juga di desa lain. Dalam memasang batang-batang bambu, Tyson membagi pekerjaan kepada dua kelompok nelayan.
“Misalnya, ia menyuruh regu pertama memagari laut sepanjang 400 meter di Desa Patramanggala, Kecamatan Kemiri, dengan upah Rp 16 juta. Adapun kelompok kedua mematok laut sepanjang 500 meter di Desa Muncung, Kecamatan Kronjo, yang berjarak kurang dari 10 kilometer dari Patramanggala, dengan bayaran Rp 30 juta,” kata Tempo dalam tulisan berjudul Tanah Girik di Atas Laut.
Dua narasumber di Kementerian Kelautan menuturkan, banyak pihak terlibat dalam pemagaran laut di utara Tangerang, termasuk perangkat desa. Informasi ini dibenarkan ketua rukun tetangga di Desa Kronjo, Gofur. Sebulan sebelum pagar dipasang, ia mendapat pemberitahuan dari seorang perangkat Desa Kronjo agar truk pengangkut bambu tak dihadang penduduk.
Temuan Tempo di Desa Kronjo, jarak tempat penampungan bambu sebelum ditancapkan di laut ke kantor Satuan Kepolisian Perairan dan Udara (Satpolairud) Kepolisian Resor Kota Tangerang sekitar 2 kilometer.
Dalam siniar Bocor Alus Politik Erwan mengungkapkan berdasarkan citra satelit dan beberapa dokumen peta yang dimiliki pagar laut masuk dalam area pengembangan dengan Pantai Indah Kapuk.
“Ternyata dari barat ke timur itu [pagar laut] terhubung ke Pantai Indak Kapuk. Jadi kita tanya juga ke orang dekat Aguan, orang ini juga mengeluarkan peta pengembangan PIK, ketika dicocokkan ternyata klop bahwa pagar laut itu merupakan area pengembangan PIK,” ungkapnya.
“Kami sudah cek juga ke koleganya Aguan, bahwa dia menyatakan ini tidak ada hubungan dengan PSN tapo bahwa ini wilayah pengembangan PIK, mungkin saja,” imbuh Fransisca Christy Rosana. (*)








