BERITAPOPULER.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Agama menutup acara Temu Nasional Marbot Masjid Indonesia yang sudah dilakukan di Hotel Lumire, Jakarta Pusat pada Selasa (25/11/2025) sore. Agenda yang berlangsung selama tiga hari itu adalah ruang berbagi pengalaman sekaligus penyamaan arah kompetensi marbot di seluruh Tanah Air.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengatakan, acara ini diikuti oleh ratusan peserta. Termasuk dari aktivis masjid seperti takmir dan pengurus Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), serta dari unsur pelajar dan mahasiswa yang merupakan bagian dari komunitas pengelolaan tempat ibadah tersebut.
Ia menjelaskan, selama tiga hari di Jakarta tersebut, materi yang disampaikan dalam kegiatan ini mencakup beberapa hal. Pertama, penguatan kompetensi keagamaan.
“Kami berharap para marbot masjid tidak hanya berfungsi sebagai petugas kebersihan, tetapi juga memiliki kompetensi ibadah, fikih, kemampuan komunikasi publik, serta penguasaan digital dan literasi sosial,” katanya.
Materi kedua, manajemen masjid modern, dilanjutkan dengan penguasaan perangkat dan sarana masjid, layanan sosial dan kepemimpinan jamaah, serta materi mengenai transformasi digital masjid.
Dari kegiatan ini, lanjut dia, terdapat beberapa hasil penting. Pertama, meningkatnya keterampilan teknis para marbot masjid. Kedua, terbentuknya jejaring nasional pengelola marbot dan masjid. Ketiga, tumbuhnya kesadaran akan pentingnya layanan berbasis keramahan dan profesionalitas.
“Terakhir, munculnya komitmen para peserta, khususnya marbot masjid, untuk memperbaiki manajemen masjid masing-masing melalui inovasi yang sederhana namun berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Jangan Pandang Rendah Marbot
Menteri Agama, Nasaruddin Umar hadir dalam penutupan acara Temu Nasional Marbot Masjid Indonesia tersebut. Ia menyambut baik agenda tersebut sebab adalah pertama kali dilakukan di Indonesia.
“Ini adalah pertama kalinya kita mengumpulkan para marbot. Biasanya yang sering berkumpul adalah DMI—Dewan Masjid Indonesia—para imam, khatib, atau takmir, tetapi marbot belum pernah dikumpulkan secara khusus. Baru kali ini kita melakukan hal tersebut,” katanya.
Ia menyampaikan, pekerjaan marbot masjid jangan sampai pandang rendah. Sebab di tangan merekalah masjid di Indonesia bisa dipakai sholat dan aktif untuk berbagai ibadah.
“Jika mereka tidak membuka masjid, kita tidak bisa masuk. Jika mereka tidak menyalakan sound system, suara tidak terdengar. Bahkan, tanpa mereka mempersiapkan berbagai keperluan, kita mungkin tidak bisa salat dengan nyaman,” katanya.
Marbot, kata dia, sering kali tidak terlihat jasanya, padahal mereka yang membersihkan karpet, merapikan toilet, dan menyiapkan perlengkapan imam sholat. “Bila marbotnya baik, maka insyaallah pengelolaan masjidnya juga baik,” jelasnya.
Karena itu, atas jasa-jasa itu, pihaknya mengadakan pertemuan marbot dari seluruh Indonesia. “Semoga para marbot ini juga bisa melihat Jakarta, merasakan suasana dan pengalaman di sini. Jasa para marbot tidak boleh kita lupakan,” katanya.
“Doa mereka pun mustajab, karena kehidupan mereka sangat dekat dengan masjid—salat lima waktu di masjid, mengurus masjid setiap hari. Dalam tradisi kita, orang yang senantiasa memakmurkan masjid doanya mustajab. Maka kita pun boleh meminta doa kepada para marbot,” ujarnya. (tir)






