Hanafi, S.Pd.I
Pengajar di MTs. Al-Hasan dan Penggiat Literasi Pengurus “TBM Somber Elmo“ Kampung Sumber Gedugan Giligenting Sumenep
BERITAPOPULER.CO.ID – Sejak dulu sampai saat ini, seluruh umat Islam di dunia menetapkan bahwa bulan Rabiul Awwal merupakan bulan istimewa karena bertepatan dengan lahirnya Sang Manusia Agung, Kekasih Allah, yang dijadikan sebagai Nabi terakhir pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia di dunia. Hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, merupakan hari yang bersejarah bagi kita, khususnya umat Islam di seluruh dunia, karena Allah melahirkan seorang yang sangat agung dan mulia sebagai penyempurna akhlak dan pembawa syafaat kelak di akhirat, yaitu Muhammad.
Berbagai momen telah dilakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia untuk menyambut kelahiran Sang Pencerah, Nabi kita, sebagai bukti bahwa kita, umat-Nya, sangat menyayangi dan merindukannya. Sang Proklamator Agung Umat Islam, sang pembawa cahaya di atas cahaya. Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah, Ya Rasulullah, Ya Habiballah. Ya Rasulullah, Anta Syamsun, Anta Badrun, Anta Nurun Fauqa Nuri, Anta Iktsiru Waghalib, Anta Misbahus Suduri. Semua menjadi saksi bahwa Engkaulah nabi di atas segalanya. Banyak kisah yang disampaikan oleh para ulama, bahwa jangankan kita, umat Islam, bahkan Abu Lahab yang jelas-jelas orang kafir, setiap hari Senin diringankan siksanya karena ia senang atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sinilah nilai kita sebagai umat Islam untuk selalu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.
Negara kita, Indonesia, yang mayoritas beragama Islam tentu senang dan bahagia selama sebulan. Seperti yang sering disampaikan oleh K. Moh Ramli Hasan saat memberikan tausiyahnya ketika diundang pada acara Maulid Nabi di kampungnya, bahwa Maulid Nabi itu semestinya harus dirayakan setiap minggu (saat kelahirannya) atau setiap bulan sekali agar kita tidak hanya fokus pada kelahiran di bulan Rabiul Awwal saja. Tidak menjadi masalah ketika kita merayakannya, tidak harus dengan seremonial shalawatan atau dhiba`an, pawai, dan kemudian pengajian umum atau lainnya. Banyak hal yang perlu kita lakukan apabila kita benar-benar ingin merayakan kelahiran Nabi SAW, yaitu dengan cara tetap meneladani beliau melalui berbagai sunnahnya.
Tentu pula, di luar kegiatan seremonial Maulid, ada hak Rasulullah yang harus dipenuhi oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Kita sangat bangga dan berterima kasih padanya, karena sebagai umatnya, kita telah diselamatkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan, terutama dalam hal hak dan kewajiban terkait keimanan kepada Allah SWT. Sebagai umat Islam, kita harus banyak bersyukur karena Rasulullah telah menyelamatkan kita dari berbagai ancaman orang-orang kafir pada saat itu. Umat Islam saat ini tetap konsisten menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan ketaatan kepada Allah, sehingga lebih mencintai Rasulullah dibanding cintanya pada yang lain.
Umat Islam banyak bersyukur atas segala perjuangan beliau. Apapun yang beliau perjuangkan saat itu hanya semata-mata untuk umatnya, bukan untuk pribadinya, bukan untuk keluarganya, golongannya, atau orang-orang terdekatnya. Bahkan saat menjelang wafatnya, beliau tetap memanggil “ummati, ummati, ummati.” Maka, wajib bagi kita tetap menjadi manusia yang selalu teguh atas syariat beliau dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, karena beliaulah yang menjadi panutan bagi kita, dan selayaknya kita menjauhi segala larangan yang beliau contohkan.
Dari pernyataan itu, kita semua sadar bahwa Nabi Muhammad adalah Sang Nabi yang menyelamatkan umatnya dari berbagai kondisi yang dialaminya di dunia ini. Nabi kita adalah sang penyelamat di akhir zaman. Pantas dan seharusnya kita sebagai umatnya, setiap bulan Rabiul Awwal dan di luar bulan itu, selalu mengumandangkan shalawat atasnya, mengisahkan riwayat beliau sebagai Nabi Agung akhir zaman. Menjadi cahaya di atas segala cahaya keagungannya, menjadi penabur kesejahteraan umat di seluruh dunia. Kisahnya mengalahkan segala kisah manusia hebat di alam ini. Sang Nabi Muhammad pemberi syafaat kelak di akhirat bagi mereka yang selalu bershalawat kepadanya.
Sang Nabi, kekasih Allah, yang mampu berjuang demi tegaknya agama Islam. Kekasih Allah yang telah memperjuangkan kehormatan umat Islam atas segala hinaan dan serangan orang-orang kafir. Seluruh umatnya tentu selalu mengharap akan berjumpa dengannya kelak, apabila bibir dan hatinya selalu bershalawat padanya.
Tak pantas bagi kita sebagai umatnya hanya merayakan dan mengumandangkan shalawat pada saat Rabiul Awwal saja. Bentuk yang paling sempurna bagi kita adalah selalu membaca shalawat atasnya dalam keadaan apapun, terlebih setelah shalat lima waktu, minimal 100 kali. Bentuk pengabdian kita kepadanya hanya sebagai ucapan terima kasih atas segala jerih upaya serta perjuangannya yang telah mengorbankan segalanya demi kemaslahatan dan keselamatan umatnya.
Meneladani segala sunnahnya dan mengimplementasikan segala sifat-sifat mulianya menjadi suatu keharusan yang sangat afdal dan wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi para pemimpin kita. Sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, jika diterapkan oleh para pemimpin, maka harapan besar akan kemajuan, kemakmuran, serta kesejahteraan bangsa akan kita rasakan.
Bukan hanya kita bangga dengan melaksanakan perayaan dengan berbagai acara yang bahkan sampai menghabiskan banyak dana, namun nilai yang terkandung dalam perayaan tersebut hanya sebatas pamer dan seolah-olah ia orang yang mampu, sedangkan aktivitas sehari-harinya masih tidak mengikuti sunnahnya dan malah lebih mengutamakan kepentingan pribadi, golongan, keluarga, dan bahkan partai politiknya.
Dengan momen penting ini, ada upaya untuk mengubah suatu kebiasaan yang tidak wajar dan tidak pantas menjadi suatu kegiatan atau aktivitas yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam tatanan birokrasi.
Keteladanan dan sifat kepemimpinan Rasulullah masih sangat minim diterapkan oleh para pemimpin di tanah air ini, khususnya pemimpin negara, perusahaan, politik, instansi, daerah, dan bahkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Ingat! Tiap-tiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sifat jujur, amanah, berani menyampaikan kebenaran, cerdas, dan mampu menguasai kebenaran, serta bisa membedakan yang hak dan yang batil, berani mengungkap kebatilan dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin, merupakan cerminan Rasulullah agar semua permasalahan dapat diterima oleh semua pihak dan mengarah pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Bagi kita, khususnya para calon pemimpin atau mereka yang sudah menjadi pemimpin, seharusnya tetap berpedoman pada asas-asas kepemimpinan Rasulullah SAW. Bukan hanya bisa mengurus dan menangani berbagai macam administrasi kantor, mengurus kegiatan proyek semata, tetapi juga membentuk budaya, karakter, dan hubungan yang positif, dari level birokrasi sampai tatanan masyarakat. Keterampilan kecerdasan emosional, dalam hal ini, menjadi kunci untuk mengelola kompleksitas hubungan interpersonal dan memastikan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan dan pembelajaran, dalam menanamkan budaya kerja yang berakhlak baik.
Memahami dan mengaplikasikan karakteristik kepemimpinan Rasulullah dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin modern untuk mengelola keberagaman dan menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis. Semoga niat baik para pemimpin kita, baik Presiden dan Wakil Presiden terpilih, DPD-DPR RI, DPRD (Provinsi) – DPRD (Kabupaten), dapat menjalankan tugasnya dan mengemban amanahnya selama lima tahun ke depan. Semoga masyarakat dapat menikmati kepemimpinannya dengan tetap mengedepankan asas kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Tak lupa pula doa dan harapan kami mewakili masyarakat Indonesia, semoga para paslon yang bertarung dan berlaga di Pilkada tahun 2024 (Gubernur, Wali Kota, Bupati) tetap menjadi pemimpin terpilih dan pemilihan tersebut menjadi berkah, serta terbaik dalam membawa perubahan kondisi daerahnya masing-masing. (*)








