HANAFI, S.Pd.I
Pengajar di MTs Al-Hasan dan Penggiat Literasi Pengurus “TBM Somber Elmo” Kampung Sumber Gedugan, Giligenting, Sumenep
BERITAPOPULER.CO.ID – Saya seorang guru swasta di Madrasah Tsanawiyah Al-Hasan Gedugan Giligenting Sumenep. Kebetulan, saya mendapat undangan rapat kegiatan di kabupaten untuk persiapan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Tahun Pelajaran 2024-2025 yang diadakan oleh pengawas Pendidikan Agama Kementerian Agama Kabupaten Sumenep. Dalam perjalanan pulang dari kegiatan rapat, seperti biasanya, saya berhenti untuk menghilangkan kantuk dan lelah di sebuah warung kopi. Di mana pun ada warung kopi, saya sering menyempatkan diri untuk rehat sejenak, minum kopi atau teh hangat demi menyegarkan kembali badan yang lelah setelah perjalanan.
Sepeda motor yang saya pakai adalah keluaran lama, masih sepeda motor manual (gigi) merek Honda Revo Fit. Meskipun sudah sering ganti onderdil, sepeda motor ini tetap nyaman digunakan ke mana-mana.
Saya singgah di sebuah warung kopi di pertigaan jalan. Mbak Maya, pemilik warung, langsung bertanya, “Minum apa, Pak?” Saya menjawab, “Seperti biasa, Mbak, kopi hitam saja.” “Ya, bentar, Pak,” jawabnya. Lima menit kemudian, kopi sudah siap saya nikmati. Warung kopi ini selalu ramai dengan para pencinta kopi dan rokok. Tempatnya sangat strategis di pertigaan jalan raya. Tersedia aneka gorengan seperti pisang goreng, tape goreng, sukun goreng, kue nagasari, cucur, hingga nasi bungkus seharga Rp7.000, serta berbagai minuman hangat dan dingin. Bagi perokok, warung kopi Mbak Maya juga menyediakan berbagai merek rokok, baik resmi maupun ilegal, bahkan menjual rokok ketengan.
Kebetulan saya bukan perokok, tetapi sering mampir ke warung Mbak Maya hanya untuk minum kopi atau teh hangat, sekadar menghilangkan kantuk dalam perjalanan. Berbagai macam orang biasa bersantai di warung ini: abang kaki lima, kuli bangunan, penjual jamu, guru, pegawai negeri, anak muda, penjual sapi, pemulung, alumni santri, aktivis, tukang becak, hingga petani. Semua bercampur, duduk ngopi bersama.
Saya mengamati obrolan demi obrolan yang terjadi di warung kopi ini. Seolah-olah mereka semua sudah saling kenal dan akrab, ngobrol lepas tanpa batas, membahas segala topik sesuai minat masing-masing. Penjual sapi biasanya berbicara soal harga sapi, tukang becak ngobrol soal tarikan dan penghasilan mereka, dan yang lain berbicara soal politik, hukum, kebijakan pemerintah, harga sembako, masalah pengajian, hingga kenakalan remaja. Topik obrolan mengikuti isu-isu terkini yang sedang ramai di masyarakat atau media.
Waktu 15 menit duduk di warung kopi terasa cepat berlalu karena asyik mendengarkan berbagai obrolan. Tidak ada moderator atau narasumber dalam percakapan ini, semua berbicara lepas tanpa menyakiti perasaan satu sama lain. Mereka saling memberi komentar, bertanya, dan berbagi informasi agar masyarakat tidak cepat terjebak dalam keputusan tanpa dasar yang jelas.
Sajian gorengan menjadi teman yang paling nikmat bersama secangkir kopi hitam yang agak pahit. Dari obrolan mereka, saya bisa menangkap banyak informasi. Salah satu pelanggan yang saya lihat, Pak Yoni—seorang mantan tentara yang sekarang menjadi kepala dusun—terlihat sudah biasa nongkrong di sini. Sementara itu, Edi, seorang pemuda pekerja serabutan yang sering merantau, juga ikut bergabung dalam obrolan. Edi banyak memperoleh informasi tentang politik dan pemerintahan dari pengalamannya merantau.
Ketika Pak Yoni berbicara tentang perkembangan politik, Edi mengerutkan dahi, seolah tidak setuju dengan pandangan Pak Yoni yang terkesan menyalahkan masyarakat kecil karena tidak paham politik. Menurut Edi, masyarakat tidak mungkin mengurusi politik secara mendalam, berbeda dengan Pak Yoni yang memiliki latar belakang tentara dan sekarang menjadi kepala dusun.
Menjelang Pilkada serentak 2024, baik Pilbup, Pilgub, maupun Pilwali, Edi dengan santai berbicara soal bagaimana masyarakat seharusnya tidak terkecoh oleh politik uang. Beberapa orang setuju, menyatakan bahwa pemilihan harus bersih dan masyarakat harus pintar memilih pemimpin yang jujur dan tidak terjebak pada janji-janji palsu.
Ahmad, seorang alumni pesantren, memberikan pandangan bahwa politik di negeri ini sekarang sedang berkolaborasi. Calon pemimpin, baik bupati, wali kota, gubernur, maupun presiden, berusaha menggandeng keluarga besar pesantren untuk mendapatkan dukungan suara. Dalam situasi ini, para politikus memanfaatkan pengaruh para kiai dan alumni pesantren untuk meraih kekuasaan.
Politik memang membingungkan. Sebagian orang menganggap politik adalah siasat busuk untuk merebut kekuasaan tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Namun, politik tetap menjadi realitas yang harus dihadapi, dan masyarakat harus menjadi pemilih yang cerdas.
Tahun 2024 adalah pesta demokrasi. Masyarakat akan menjadi target empuk bagi para politikus yang berlomba-lomba meraup suara. Trik dan strategi mulai dijalankan untuk menarik simpati pemilih. Gong tanda perang sudah ditabuh, dan para kandidat siap bertarung di arena Pilkada.
Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang makna politik. Yang saya ingin sampaikan adalah bagaimana kita bisa menjadi pemilih yang cerdas, santun, dan bebas dari money politic. Mari kita memilih dengan hati nurani, tanpa intimidasi. Pilihlah kandidat yang jujur, adil, berpengalaman dalam birokrasi, dan mampu bertanggung jawab atas kekuasaan yang diamanahkan kepadanya.
Jangan sampai kita terjebak lagi dalam kecurangan pemilu. Pemimpin yang baik akan lahir dari proses yang baik pula. Namun, apakah mungkin yang bermoral akan menjadi pemenang, ataukah yang bermodal yang akan menjadi juaranya? Jawaban ada pada masing-masing pemilih. Selamat memilih dan jadilah pemilih yang cerdas serta berkualitas demi Indonesia yang lebih baik!. (*)








