Scroll untuk baca artikel
Ads Beritapopuler.co.id 325x300
Trend

Mengatasi Dampak FOMO dan Luka Diri dalam Era Media Sosial

×

Mengatasi Dampak FOMO dan Luka Diri dalam Era Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Dr. Geofakta Razali (Praktisi Psikologi Komunikasi) dan Defira (Program Manager ICT Watch) berbagi solusi untuk mengatasi FOMO di era digital.

BERITAPOPULER.CO.ID, JAKARTA – Fenomena Fear of Missing Out (FOMO), atau ketakutan ketinggalan momen, peluang, atau kesenangan yang dinikmati orang lain, semakin diperbincangkan seiring dengan berkembangnya media sosial. Dalam sebuah acara Talkshow Universitas Sahid dengan tema “Digital WellBeing untuk Mengatasi FOMO” yang digelar di Jakarta pada Senin (13/1/2025), praktisi psikologi komunikasi, Geofakta Razali, dan Program Manager ICT Watch, Defira, membahas dampak FOMO terhadap kesehatan mental dan produktivitas individu, serta solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah ini.

Geofakta, yang dikenal sebagai ahli dalam bidang komunikasi, menjelaskan bahwa FOMO bisa menimbulkan luka emosional. “Ketika kita merasa tertinggal, kita mulai mempertanyakan nilai diri kita, seperti, ‘Kenapa saya nggak diundang?’ atau ‘Kok dia bisa sukses secepat itu?’,” ucapnya. Menurut Geofakta, dampak dari luka diri ini dapat merusak self-communication atau percakapan internal dengan diri sendiri, yang berujung pada perasaan tidak cukup baik, kecemasan berlebihan, menurunnya harga diri, dan stres kronis akibat mengejar standar yang tidak terjangkau.

Defira menambahkan bahwa FOMO seringkali dipicu oleh penggunaan media sosial yang berlebihan. Berdasarkan data terbaru, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan 7 jam 38 menit per hari menggunakan ponsel pada tahun 2024. Hal ini berisiko mengganggu kesehatan mental serta produktivitas individu. Untuk itu, Defira mengingatkan pentingnya mengatur penggunaan media sosial dengan menggunakan fitur-fitur di ponsel, seperti Digital Wellbeing pada Android atau Screen Time pada iPhone. “Fitur-fitur ini memungkinkan pengguna untuk melacak waktu yang dihabiskan di aplikasi tertentu dan membatasi durasi penggunaannya,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, Geofakta juga berbagi langkah-langkah untuk mengatasi FOMO dan luka diri. Salah satu yang utama adalah mengenali dan mengakui emosi yang timbul akibat perasaan tertinggal. “Tanyakan pada diri sendiri: ‘Apa yang sebenarnya saya rasakan? Kenapa saya merasa tertinggal?’ Mengakui emosi adalah langkah pertama untuk menyembuhkan luka,” jelas Geofakta. Selain itu, ia menekankan pentingnya dekonstruksi ilusi media sosial. “Tanyakan pada diri sendiri, apakah apa yang dilihat di media sosial mencerminkan hidup mereka secara utuh atau bukan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Geofakta mengingatkan agar kita mulai berbicara positif pada diri sendiri dengan afirmasi seperti, “Saya cukup,” “Saya punya jalan hidup saya sendiri,” dan “Kebahagiaan saya tidak ditentukan oleh standar orang lain.” Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif FOMO.

Geofakta menutup pembicaraannya dengan mengutip pesan dari bukunya Refleksi Stoikisme, Komunikasi Diri, dan Ketegangan Psikologis Manusia Era Media Sosial, “Ketika kita berhenti melihat hidup orang lain sebagai standar, kita mulai menemukan kedamaian di jalan hidup kita sendiri.”

FOMO bukan hanya masalah lokal, tetapi juga fenomena global yang dipicu oleh kemajuan teknologi dan media sosial. Oleh karena itu, edukasi dan penerapan solusi seperti pembatasan waktu penggunaan media sosial serta peningkatan kesadaran diri sangat penting untuk mengurangi dampak negatif FOMO terhadap kesehatan mental. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan individu dapat lebih bijak dalam mengelola waktu dan kesehatan mentalnya, serta tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang merugikan. (*)

Dapatkan berita terupdate beritapopuler.co.id di: