Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Philip Kuntjoro Widjaja, menyatakan bahwa Hari Raya Waisak 2024 adalah kesempatan untuk merenungkan semangat persatuan dan kesatuan yang dianut oleh Budi Utomo serta prinsip-prinsip mulia Buddha.
Ia menyampaikan hal tersebut karena perayaan Waisak tahun ini bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Baginya, dua peristiwa bersejarah ini memberikan peluang untuk meningkatkan persatuan dan harmoni antara umat beragama dalam upaya menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di Indonesia.
“Saat ini, semua orang sudah merasa dirinya adalah Indonesia. Namun, kita perlu langkah yang lebih konkret untuk memperjelas dan memperkuat nasionalisme. Dalam agama Buddha, misalnya, organisasi seperti Permabudhi, bekerja keras untuk menciptakan kesatuan dan persatuan sesuai dengan kebijakan moderasi beragama yang digulirkan pemerintah,” katanya dalam keterangan persnya yan diterima Info Indonesia di Jakarta, Kamis (23/5/2024).

Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dalam urusan agama untuk mengisi ruang publik dan menangkal propaganda yang bersifat radikal. Menurutnya, ancaman dari doktrin ekstrem atau ideologi yang tersebar lintas negara harus disikapi dengan cara yang seimbang, yaitu dengan kembali menjelaskan nilai-nilai filosofis Indonesia sesuai dengan visi yang diemban oleh para pendiri negara.
Philip yakin, bahwa kearifan lokal adalah pondasi yang harus dijaga. Warga harus memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi situasi tertentu dan memastikan bahwa sikap tersebut sesuai dengan semangat nasionalisme Indonesia.
“Penting untuk membangun komunikasi lintas agama yang baik untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan pemahaman antar umat beragama. Dengan saling memahami dan menghormati, kemungkinan terjadinya gesekan bisa diminimalkan dan kita dapat bekerja sama membangun bangsa, serta meminimalisasi dampak ideologi transnasional,” ucapnya.
Disamping itu, juga memberikan tanggapannya terhadap tema perayaan Waisak tahun ini, yaitu “Kesadaran Keberagaman, Jalan Hidup Mulia, Harmonis, dan Bahagia.” Baginya, tema tersebut tetap penting untuk ditekankan sebagai bagian dari upaya membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kokoh dan tangguh.
“Melalui berbagai kegiatan lintas agama, kita dapat memperkuat ikatan persaudaraan dan saling memahami, yang pada akhirnya menciptakan masyarakat yang harmonis dan bahagia,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya, penting untuk mengakui bahwa komunikasi tetap menjadi elemen krusial dalam meningkatkan pemahaman tentang keberagaman. Diharapkan bahwa komunikasi yang efektif dapat mengurangi kemungkinan gesekan yang timbul akibat kesalahpahaman.
“Dengan membuka dialog, kita bisa menawarkan solusi untuk mengurangi ketegangan dan menyadarkan pihak-pihak yang mengganggu. Ini sudah saya lakukan dari waktu ke waktu, baik di Indonesia maupun di berbagai pelosok dunia melalui interfaith action,” ujarnya.
Menurutnya, Komunikasi yang berhasil menyatukan berbagai perbedaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin agama atau tokoh masyarakat. Baginya, seluruh masyarakat juga perlu mengakui kebutuhan akan hidup berdampingan dalam kedamaian.
Philip menekankan bahwa ketahanan nasional tidak hanya tergantung pada kebijakan pemerintah, melainkan juga melibatkan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat.
“Dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional dan Waisak, mari kita sinergikan upaya kita semua untuk menciptakan Indonesia yang damai, rukun, dan sejahtera,” tegasnya.








