Scroll untuk baca artikel
Ads Beritapopuler.co.id 325x300
Trend

Penetapan Awal Bulan Hijriah: Perpaduan Astronomi dan Rukyat dalam Menentukan Hilal.

×

Penetapan Awal Bulan Hijriah: Perpaduan Astronomi dan Rukyat dalam Menentukan Hilal.

Sebarkan artikel ini
peta visibilitas bulan Ramadhan 1446 H berdasarkan kriteria mabims dihitung pada waktu matahari terbenam tanggal 28-2-2025. (Foto: dok. brin)

BERITAPOPULER.CO.ID, JAKARTA – Penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, selalu menjadi perhatian umat Islam di seluruh dunia. Dalam prosesnya, ilmu astronomi dan metode rukyat menjadi dua pendekatan utama yang kerap menimbulkan perbedaan pandangan. Profesor Riset Astronomi-Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin, menegaskan bahwa ilmu astronomi dan falak memiliki peran penting dalam menentukan posisi hilal secara ilmiah

Menurut Thomas, astronomi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda langit, termasuk pergerakan matahari dan bulan, sementara ilmu falak merupakan cabang astronomi yang dikaitkan dengan dalil syariah untuk keperluan ibadah umat Islam. “Dalam penentuan hilal, astronomi digunakan untuk menghitung posisi bulan, ketinggian hilal, serta jaraknya dari matahari guna memprediksi kemungkinan hilal dapat diamati atau tidak,” ujar Thomas dalam wawancara di Kantor BRIN, Jakarta dilansir dari brin pada selasa (25/2/25).

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, awal bulan Hijriah awalnya ditentukan melalui metode rukyat, yaitu pengamatan hilal secara langsung. Metode ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, “Berpuasalah jika melihat hilal dan berbukalah jika melihat hilal.” Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, metode hisab atau perhitungan astronomi mulai diterapkan untuk memperkirakan posisi hilal sebelum dilakukan observasi.

Thomas menekankan bahwa metode hisab telah mengalami kemajuan pesat dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi.“Saat ini, perhitungan astronomi sudah sangat akurat, bahkan untuk gerhana matahari atau bulan dapat dihitung hingga hitungan detik,” jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa meskipun hisab memiliki akurasi tinggi, sebagian besar umat Islam tetap menghendaki pembuktian melalui rukyat.

Perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah sering kali tidak hanya disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi juga oleh perbedaan kriteria yang diterapkan oleh berbagai organisasi Islam dan pemerintah. Di Indonesia, misalnya, pemerintah menggunakan kriteria yang berbeda dari Muhammadiyah, tetapi sejalan dengan beberapa ormas Islam lainnya. Perbedaan ini berdampak pada penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Selain itu, faktor geografis dan kondisi cuaca juga memengaruhi metode rukyat. Hilal yang sangat tipis bisa tertutup oleh cahaya senja atau tertutupi awan mendung, sehingga sulit terlihat dengan mata telanjang. “Salah satu tantangan terbesar dalam rukyat adalah kontras cahaya. Hilal sangat tipis dan sering kali kalah terang dibandingkan cahaya senja,” kata Thomas.

Untuk mengatasi kendala tersebut, teknologi astronomi terus berkembang guna meningkatkan keakuratan dalam pengamatan hilal. Salah satu teknologi yang digunakan saat ini adalah teleskop yang dilengkapi kamera digital dan pemrosesan citra image stacking, yang memungkinkan peningkatan kontras citra hilal dengan menggabungkan ratusan gambar dalam satu frame.“Teknologi ini memungkinkan hilal yang sangat redup dapat terlihat lebih jelas,” tambahnya.

Thomas juga menjelaskan perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah antara Indonesia dan Arab Saudi. Secara logis, karena Indonesia berada lebih ke timur, seharusnya awal bulan ditetapkan lebih dulu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, justru Arab Saudi yang lebih dahulu menetapkan Idul Fitri atau Idul Adha. “Hal ini lebih disebabkan oleh perbedaan keputusan pemerintah masing-masing negara, bukan karena perbedaan metode hisab atau rukyat,” jelasnya.

Dalam perkembangan terbaru, Thomas mengungkapkan bahwa sejak 2021, pemerintah dan ormas Islam di Indonesia telah memperbarui kriteria penetapan hilal, yaitu dengan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara itu, Muhammadiyah yang sebelumnya menerapkan kriteria kalender Hijriah global tunggal kini kembali menggunakan metode wujudul hilal. Meski demikian, perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah masih berpotensi terjadi.

Sebagai lembaga riset nasional, BRIN berperan penting dalam mengembangkan ilmu astronomi guna mendukung penentuan hilal yang lebih akurat dan berbasis ilmiah. Melalui Pusat Riset Antariksa, BRIN turut berkontribusi dalam pemantauan hilal yang lebih presisi sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat Kementerian Agama RI.

“Kami terus memberikan masukan berdasarkan riset dan inovasi astronomi untuk memastikan bahwa metode yang digunakan dalam penentuan hilal semakin akurat dan dapat diterima oleh semua pihak,” pungkas Thomas.

Melalui edukasi yang terus digalakkan oleh lembaga riset dan pemerintah, diharapkan perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah dapat menemukan titik temu, serta masyarakat semakin memahami metode ilmiah dalam menentukan hilal.

Prediksi Awal Ramadan 1446H

Berdasarkan analisis garis tanggal, pada 28 Februari 2025 saat maghrib, posisi bulan di wilayah Indonesia telah memenuhi kriteria MABIMS, khususnya di Aceh. Di Banda Aceh, posisi bulan tercatat sebagai berikut: tinggi toposentrik 4,5° dan elongasi geosentrik 6,4°, sedikit melebihi kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi lebih dari 3° dan elongasi lebih dari 6,4°.

Dengan kondisi tersebut di Aceh, awal Ramadan dalam kalender Hijriah seharusnya jatuh pada 1 Maret 2025. Namun, karena hanya wilayah Aceh yang memenuhi kriteria dan faktor cuaca yang berpotensi mendung, ada kemungkinan rukyat tidak berhasil, sehingga 1 Ramadan bisa saja ditetapkan pada 2 Maret 2025.

Meski demikian, penentuan awal Ramadan 1446 H tetap bergantung pada hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI. (pit)

Dapatkan berita terupdate beritapopuler.co.id di: