Scroll untuk baca artikel
Ads Beritapopuler.co.id 325x300
Daerah

PUPR Lakukan Survei Terhadap Pergerakan Tanah di Aceh Barat

×

PUPR Lakukan Survei Terhadap Pergerakan Tanah di Aceh Barat

Sebarkan artikel ini
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat turun kelokasi sehari setelah bencana erosi sungai terjadi guna mengkaji masalah teknis terkait tanah bergerak tersebut.Doc PUPR Aceh Barat.

BERITAPOPULER.CO.ID, Aceh – Erosi yang terjadi di Sungai Meugo, Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meurebo, mengakibatkan delapan rumah dan 42 jiwa terdampak. Sebagai langkah awal pencegahan, pemerintah melalui Dinas PUPR Aceh Barat segera melakukan tindakan pada Minggu (23/2/2025).

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat segera melakukan peninjauan ke lokasi bencana erosi sungai sehari setelah kejadian, untuk mengevaluasi masalah teknis yang berkaitan dengan pergerakan tanah tersebut.

Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Dr. Kurdi, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan upaya awal untuk penanganan sementara terkait bencana pergerakan tanah yang terjadi di Desa Meutulang.

“Saat ini Tim Survey Bidang Sumber Daya Air (SDA) dan TRC PUPR Aceh Barat, sudah dilokasi mengkaji lebih detail tanah bergerak tersebut dan mengambil langkah langkah penagananan darurat,” ucap Dr.Kurdi dilansir dari rri pada Senin (24/2/2025).

Kurdi menjelaskan bahwa erosi ini mungkin disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, yang mengakibatkan pergerakan lapisan tanah bagian atas, yang sebagian besar terdiri dari tanah liat. Selain itu, struktur tanah di bawahnya masih perlu diidentifikasi lebih lanjut.

Di lokasi, tambah Kurdi, kondisi tebing yang curam dengan ketinggian sekitar 17 meter dari sungai juga dapat menjadi faktor penyebab, ditambah dengan perkiraan getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan berat yang melintas di jalan tersebut.

“Sementara kalau penanganan darurat kita melakukan pembuatan Krib (pengarah arus) dari pohon kelapa ke arah Sungai dengan sudut arah 3 – 45 derajat. Penanganan ini hanya bersifat sementara untuk pengalihan arus sungai,” ucapnya

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya sebelumnya telah membangun bronjong untuk menahan pergerakan tanah agar erosi tidak semakin parah, dan ke depannya akan dilakukan kajian lebih mendalam untuk menangani permasalahan ini.

“Disana tahun 2012 kita ada membangun Bronjong dengan panjang 300 meter dan tinggi 3,5 meter. Diperlukan kajian lebih mendalam terkait pergeseran tanah dan untuk kerusakan badan jalan, kita akan berkoordinasi dengan PUPR Aceh sekaligus melaporkan kerusakan badan jalan untuk dapat ditangani lebih lanjut, penutupnya. (clv)

Dapatkan berita terupdate beritapopuler.co.id di: